Full Day School, Ngapain Aja?

12 Aug 2016

Reshuffle kabinet baru saja dilakukan oleh Presiden Jokowi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendi, langsung membuat wacana kebijakan yang menggemparkan, full day school. Wacana ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Bagi saya, wacana kebijakan ini seolah menimbulkan dejavu. Saya memang bukan anak yang pernah bersekolah di sekolah yang menerapkan full day school. Sejak SD, SMP, hingga SMA, saya bersekolah di sekolah negeri. Baru di bangku kuliah saya berada di kampus swasta. Dejavu muncul teringat masa-masa SMP.

Kala itu, sejak kelas 1 hingga kelas 3, saya sering sekali berangkat pagi pulang sore. Di kelas 1 dan 2, berada di sekolah kadang untuk latihan pleton inti (kalau di daerah lain namanya paskibra), les, mengerjakan tugas, atau sekedar nongkrong dan main. Sekolah serasa sudah menjadi rumah. Berbeda dengan kondisi di kelas 3, mungkin setiap anak sekolah mengalaminya, les dan tambahan pelajaran menjadi kegiatan wajib menjelang ujian nasional. Di masa ini, pulang awal rasanya sangat langka dan terasa menyenangkan. Dua hal yang berbeda, jika sekolah serasa rumah, berada di sekolah terasa menyenangkan, sedangkan jika di sekolah karena keterpaksaan, pulang adalah hal yang menyenangkan.

Pulang sore sebenarnya bukan hal yang baru bagi anak sekolah. Buktinya banyak anak sekolah yang selepas jam sekolah masih dilanjutkan dengan les di tempat bimbingan belajar. Apa bedanya dengan “hidup” di sekolah hingga sore? Full day school, mungkin pandangan saya sama dengan kebanyakan orang di luar sana, berada di sekolah hingga sore adalah untuk belajar seperti jam pelajaran biasanya.

Jika jam pelajaran yang biasanya dari jam 07.00 hingga 13.00 diperpanjang hingga 17.00, kebosanan, kejenuhan, kelelahan, dan ke-an ke-an lain yang akan terjadi. Kita harus ingat bahwa kejenuhan dan kelelahan (fatigue) terjadi karena pekerjaan yang berulang dalam waktu yang lama. Kita melihat kelas yang sama, orang-orang yang sama, cara pengajaran yang sama, guru yang itu-itu saja, suasana kelas yang sama, dan hal-hal sama lainnya.

Kejadian yang tidak terjadi pada lembaga bimbingan belajar. Setelah anak keluar dari lingkungan sekolah, ia menemukan ruangan yang berbeda, guru yang bebeda, teman yang berbeda, cara pengajaran yang berbeda, dan perbedaan lainnya. Kita harus ingat bahwa istirahat adalah peralihan dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Hal ini yang juga saya rasakan di kelas 1 dan 2, meski saya seharian di sekolah, tetapi aktivitas yang dilakukan berbeda dengan aktivitas pagi hari. Jika aktivitas pagi banyak berada di kelas, ekskul pleton inti/paskibra lebih banyak bermain fisik/semi militer. Saya ikut les di sekolah pun suasana yang dibangun oleh sekolah berbeda dengan cara pengajaran di pagi hari. Dan aktivitas-aktivitas lain di sekolah hingga saya pulang sore.

Jika kita mau melihat sekitar, ada beberapa sekolah swasta semisal SDIT, SMPIT, SD Muhammadiyah, dan sekolah-sekolah swasta lain yang sudah menerapkan full day school. Yang jadi pertanyaan, siapkah sekolah negeri dan sekolah swasta lain menerapkannya? tentu kita tidak bisa menerapkan satu sistem cocok untuk semua. ibarat satu makanan pasti disukai dan dibutuhkan oleh semua manusia.

Jika kita membahas siap atau tidaknya, bisa atau tidaknya, dan hal-hal sejenis, bahasan akan menjadi sangat panjang. Yang pasti satu sekolah memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh sekolah lain. Terkait full day school, akan ada sekolah yang siap dan ada yang tidak siap. Hal ini tergantung dari stakeholder guru dan dari siswa sendiri.

Sebagaimana mantan Mendikbud Anies Baswedan, mengutip pernyataan Ki Hajar Dewantara, bahwa sekolah adalah taman, maka entah full day school akan berlaku atau tidak, siswa harus merasa nyaman. Apalah arti berada di sekolah satu jam saja sehari tetapi terasa di penjara. Dan guru pun merasa nyaman agar bisa menularkan ilmu yang baik kepada anak didiknya. Sekolah adalah tempat pendidikan, anak dididik di sana agar menjadi baik. Jika memang perlu, sedikit cubitan, jeweran, pukulan adalah rasa cinta guru kepada muridnya. :)


TAGS opini


-

Author

Farid Nugroho
@edisipertama
Hanya seorang blogger yang entah apakah masih pantas disebut blogger :)

Follow Me