Pakai New Blogdetik Miskin Komentar (?)

1 Oct 2015

Perubahan adalah sebuah kewajiban. Pada sebagian besar perusahaan, istilah “Inovasi atau mati” dijunjung tinggi. Ketika kita hanya mengandalkan kejayaan masa lalu lalu kita tidak berani berinovasi, maka kematian tinggallah menunggu waktu. Begitu pula dengan Blogdetik, dengan tagline baru “Platform blog lokal asli dari Indonesia”, mencoba berinovasi. Tentu saja inovasi ini agar kualitas blogdetik di masa mendatang menjadi lebih baik.

Setiap perubahan, terlebih perubahan yang radikal, pasti menimbulkan gejolak. Saya merasa ada yang lain dari kehidupan blogger blogdetik. Memang saya bukan blogger blogdetik militan. Saya menggunakan Blogdetik belum genap dua tahun itu pun jarang update. Tapi saya yang pernah merasakan manfaat dari menggunakan blogdetik tidak rela jika perubahan blogdetik justru menjadi kontraproduktif. Saya hanya tidak rela blogdetik punah selepas berinovasi sebagaimana beberapa layanan lain. Saya tidak, dan saya yakin Anda pun tidak rela jika blogdetik punah.

Setelah sekian lama saya merasa tidak nyaman dengan embel-embel “New” di domain blogdetik, akhirnya tambahan “new” itu hilang juga. Tambahan “new” bagi saya rasanya mengganggu karena untuk personal branding menjadi terhambat. Dan bisa jadi salah satunya karena itu, ada beberapa blogger yang berpindah ke lain hati. Semoga blogger yang bertahan tetap banyak.

Kemudian, satu hal yang sangat mencolok, menggunakan blogdetik sekarang menjadi sangat miskin komentar. Dulu meskipun postingan saya mencapai sekian komentar tetap saja belom masuk list komentar terbanyak. Sekarang tantangan untuk bisa masuk komentar terbanyak menjadi sedikit berbeda. Sekarang, bisa mendapatkan tiga komentar saja bisa masuk list Banyak Dikomentari. Padahal di platform lain dan juga blogdetik lama, tiga komentar bagi sebagain besar blogger adalah hal yang sepele.

Komentar adalah bentuk interaksi blogger dan pembacanya. ketika tidak ada komentar di suatu postingan bisa karena (pertama) tulisan tidak ada yang membaca, (kedua) tulisan tidak perlu dikomentari, atau (ketiga) karena platform blog tidak friendly dengan komentar. Mungkin masih banyak faktor yang menyebabkan postingan kita menjadi miskin komentar.

Lalu bagaimana kita selanjutnya? Blogdetik kini sudah dibilang stabil. domain sudah tidak ada embel-embel “new”, masuk dashboard jarang error (tidak seperti blogdetik yang lama), bagi penyuka oprek tersedia juga kesempatan untuk otak-atik tema. Saatnya kita manfaatkan dengan menulis, berinteraksi berupa saling blogwalking dan berkomentar, dan bagi yang sudah meninggalkan blogdetik masih terbuka kesempatan untuk membangun personal branding yang mungkin sempat hilang. Oke, saatnya menulis dan berkomentar agar blogdetik tidak miskin komentar. :)


TAGS ngeblog Blogdetik


-

Author

Farid Nugroho
@edisipertama
Hanya seorang blogger yang entah apakah masih pantas disebut blogger :)

Follow Me