Pengalaman Menyelenggarakan Buka Puasa Bersama

29 Jun 2015

Berbicara tentang buka puasa bersama, saya baru saja pulang dari buka bersama di rumah sahabat saya yang sedang memperingati 40 hari meninggalnya ayah sahabat saya tersebut. akan tetapi, kali ini saya tidak akan bercerita tentang hal tersebut, melainkan tentang buka bersama yang pernah saya selenggarakan enam tahun silam, di tahun 2009. kala itu saya sedang aktif-aktifnya dalam kegiatan karang taruna di kampung. mengingat beberapa tahun sebelumnya saya lebih sering berkecimpung dalam penyelenggaraan kegiatan Ramadhan di kampus, maka tahun tersebut saya niatkan untuk all out dalam penyelenggaraan Ramadhan di kampung.

Masjid di kampung saya

 

Di kampung saya, kegiatan Ramadhan terkhusus kegiatan menjelang buka puasa diselenggarakan lebih pada kegiatan TPA Ramadhan yang pesertanya adalah anak-anak usia SD dan pra SD. sedangkan untuk masyarakat umum usia dewasa sudah sangat lama tidak terselenggarakan. maka di tahun tersebut saya dan teman-teman panitia berencana menyelenggarakan buka puasa bersama untuk masyarakat umum usia dewasa. ada sebuah kekhawatiran yang teramat sangat mengingat di beberapa tahun sebelumnya pernah akan menyelenggarakan tetapi gagal karena tidak ada respon positif dari masyarakat. tetapi di tahun tersebut kami nekat.

Di tahun tersebut, kami menyelenggarakan empat kali pertemuan dengan masing-masing diampu oleh seorang kiai yang berbeda. ada banyak hal yang harus kami persiapkan. siapa pemateri atau kiai yang akan memberikan materi pengajian menjelang buka puasa, membuat estimasi takjil, membuat publikasi serta undangan, dan lain sebagainya termasuk dalam hal dana. tantangan terbesar adalah membuat estimasi takjil, mengingat selama ini, bahkan hingga saat ini, takjil adalah berasal dari masyarakat. kala itu, kami harus mempertimbangkan berapa jumlah takjil yang optimal, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. kekhawatiran kami adalah, jika peserta membludak maka takjil jumlahnya kurang dan kami dari panitia harus mengalah. sedangkan jika jumlahnya berlebih, maka kami bingung harus “membuang” kemana. mengingat ini adalah even yang bisa dibilang baru maka segala hal menjadi memusingkan.

Alhamdulillah acara buka puasa bersama berjalan lancar. meski ada kekuarang satu atau dua tetapi secara keseluruhan kami merasa lega. jumlah takjil yang tersedia juga memenuhi estimasi dan ekspektasi. bahkan sempat kami mendapat pujian dari para senior karang taruna karena kami mampu membuat acara yang seperti itu. keharuan kami menjadi membuncah ketika melihat shalat jamaah maghrib menjadi begitu ramai dan penuh bahkan lebih penuh daripada shalat tarawih.

Kini, di 2015, acara tersebut masih terus diselenggarakan. meski dalam sebulan hanya tiga kali pertemuan, tetapi ada hal yang berbeda dengan waktu itu. waktu itu peserta adalah hanya bapak-bapak karena kami hanya mengundang bapak-bapak saja. kini peserta didominasi ibu-ibu karena undangan melibatkan bapak ibu. saya merasa puas karena saya bisa membuat acara yang bisa menjadi fondasi bagi terselenggaranya acara di tahun-tahun berikutnya. meski kini saya tidak bisa ikut lagi menjadi panitia, tetapi di dalam hati saya masih memiliki keinginan, semoga suatu saat bukan hanya terselenggara sebulan tiga atau empat kali melainkan sebulan penuh. tetapi semua itu perlu proses.

Ada satu hal yang menjadi kenangan saya, bapak dari sahabat saya yang baru saja diperingati empat puluh hari meninggalnya, dulu sangat mendukung dalam penyelenggaraan Ramadhan terkhusus pengajian menjelang buka puasa serta buka puasa bersama. beliau selalu secara terang memberikan sebagian rezeki khususnya untuk uang saku pemateri. jadi kami menjadi terbantu dalam menyelenggarakan. semoga dukungan moral dan materi yang beliau berikan menjadi amal jariyah. aamiin

 

ngaBLOGburit 2015


TAGS ngaBLOGburit2015


-

Author

Farid Nugroho
@edisipertama
Hanya seorang blogger yang entah apakah masih pantas disebut blogger :)

Follow Me