Hari Pers Nasional, Rindu Pers yang Memberitakan

9 Feb 2015

690d09b60a92c98767e13f2c23775b37_media

Salah satu konsekuensi sekaligus produk reformasi adalah kebebasan pers. pers sejak lama menjadi media perlawanan. masih ingatkah kita bahwa RRI pernah menjadi salah satu “tokoh” yang disebut-sebut dalam film G30S/PKI? dan setelah sekian lama pers berada di bawah kawalan orde baru, pers memperoleh kemerdekaannya pada masa reformasi.

Tetapi, ternyata kemerdekaan pers tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat. coba deh sesekali tonton film dokumenter trilogi Linimassa dan film Terpenjara di Udara, di youtube. di sana kita bisa tahu bahwa kemerdekaan pers masih semu karena hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang dan sebagian besar lainnya harus mengais dengan caranya sendiri.

Terlebih bagi kita sebagai penonton media televisi, pembaca berita surat kabar baik online maupun cetak, pendengar radio, kita merasa bahwa kemerdekaan kita justru diambil oleh kemerdekaan pers. pers bukan lagi entitas yang mengabarkan tetapi lebih banyak membuat kabar berita. kita sering kali justru membicarakan bagaimana sikap media massa daripada isi dari berita yang disampaikan.

Kita masih ingat bagaimana ketika hasil hitung cepat pemilu pemilihan presiden 2014 lalu di mana ada televisi yang merilis hasil yang berbeda dengan saluran televisi yang lain. dan kita bukan lagi membicarakan siapa yang menang atau bagaimana kekuatan dari pihak yang menang tetapi justru membicarakan ke mana arah penyiaran antara teve satu dibanding dengan teve lain.

Begitu pula dengan ketika adanya kasus musibah sebagaimana kecelakaan Air Asia QZ8501 yang lalu, ketika ada satu teve yang dikritik karena memberikan gambar close up dari korban. ada pula yang dikritik karena cara penyampaiannya yang dianggap kurang manusiawi. ada pula kritik mengenai begitu “mengkomersialisasi” musibah sehingga menjadi komoditas empuk bagi media. dan itu semua menjadi bahan berita yang kemudian diperbincangkan oleh masyarakat.

Tidak jarang kita mendengar pameo lebih baik melihat youtube, mendengar musik, atau aktivitas lain daripada menonton televisi. atau kalau menonton teve A beritanya begini tapi kalau menonton teve B beritanya begitu, atau teve mana berpihak pada siapa, padahal kasus yang ditampilkan sama. dan masyarakat sudah muak dengan itu semua.

Masyarakat Indonesia rindu dengan media massa yang benar-benar memberitakan, bukan yang menjadi bahan berita. sebagaimana pasal 3 UU No 40 tahun 1999 tentang pers, Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. pers harus mendidik, bukannya merusak. kemerdekaan dan kebebasan tidak ada yang sepenuhnya bebas. pasti ada batasan yang harus dipatuhi. batasan tersebut adalah hak-hak masyarakat untuk merdeka pula dari apa yang disampaikan oleh pers.

Hari Pers Nasional bukan saja sekedar seremonial merayakan kemerdekaan pers, melainkan kembali mengevaluasi diri apakah pers sudah benar-benar merdeka dan memerdekakan rakyat. Pers bukan hanya mencari sensasi dan menjadi berita tetapi pers adalah penyampai berita. dan masyarakat berhak atas itu. selamat Hari Pers Nasional rakyat mengawal kalian.:)

 


TAGS bencana media nasional politik


-

Author

Farid Nugroho
@edisipertama
Hanya seorang blogger yang entah apakah masih pantas disebut blogger :)

Follow Me