Nasib Mobil Listrik Tergantung Pada PLN

28 Sep 2014

Kabarnya, pada 21 September 2014 yang lalu BLOGdetik mengadakan #BloggerBicara bersama PLN di Teater Pinisi Edutaiment Park, Pasaraya BLOK M Lantai 9, Jakarta Selatan. karena bagi saya jarak Jogja-Jakarta cukup jauh saya tidak bisa ikut. jika saja Jogja-Jakarta dapat ditempuh sebagaimana menempuh Jogja-Magelang. *ah sudahlah*

beberapa hari yang lalu saya membaca detik finance, bahwa para konsumen BBG (Bahan Bakar Gas) memilih melepas converter kit yang dibagikan gratis dan kembali menggunakan BBM khususnya premium. penyebabnya tidak lain karena tidak terjangkaunya SPBG yang mereka butuhkan untuk “menghidupkan” kendaraan.

apakah nasib yang sama akan dialami oleh mobil listrik? mobil listrik di Indonesia diwacanakan dan diproyeksikan sebagai mobil nasional. ini sebuah hal yang luar biasa mengingat negara lain pun belum banyak yang berani berbicara mengenai produksi mobil listrik. mereka masih berbicara pada tataran penelitian dan kendaraan jarak pendek semisal mobil golf. sedangkan Indonesia berani mencanangkannya sebagai industri masa depan. tidak tanggung-tanggung di gelaran IIMS 2014 pun mobil listrik karya anak negeri ikut dipajang.

kembali apakah nasib mobil listrik akan serupa dengan nasib mobil BBG? jawabannya tergantung pada PLN. kok PLN? ya, karena mobil listrik tergantung pada keberadaan listrik dan hanya PLN yang menjadi satu-satunya operator kelistrikan nasional. ketika masyarakat ingin membeli mobil listrik, mereka akan berpikir berkali-kali mengenai bagaimana mereka akan mendapatkan listrik yang mencukupi. sebagaimana mereka membeli kendaraan bermotor dan berpikir bagaimana mereka bisa melakukan servis resmi.

kekhawatiran masyarakat mengenai kecukupan listrik untuk mobil listrik mengingat listrik untuk kebutuhan sehari-hari saja sering tidak mencukupi. ketika masyarakat menggunakan listrik berkapasitas 900 VA di rumah tetapi alat listrik yang mereka gunakan melebihinya, maka listriknya “njegelek”. seringnya pemadaman bergilir juga mereka khawatirkan. ketika di pulau jawa (khususnya Jogja) pemadaman hanya sekitar 6 jam saja sudah dikeluhkan masyarakat, bagaimana lebih dikeluhkan ketika di luar jawa pemadaman listrik bisa 3×24 jam.

oleh karena itu jika memang mobil listrik menjadi macana nasional, maka PLN harus siap “berjudi” dengan berinvestasai menyediakan charging station atau tempat pengisian listrik yang tidak boleh ada matinya. charging station adalah hak PLN untuk mengadakannya. bukankah aneh jika hal itu dilakukan oleh pertamina yang mana ranah kerjanya adalah dalam hal pertambangan? tidak mungkin pula mobil listrik di-charge menggunakan listrik hasil microhydro.

PLN seyogyanya bekerja sama dengan industri mobil listrik untuk membuat pilot project keberadaan mobil listrik. misal di salah satu daerah atau pulau di luar jawa, dijual mobil listrik dan PLN menyediakan fasilitas charging-nya. dengan kata lain PLN bersama perusahaan mitra menciptakan pulau/kota mobil listrik. mengapa luar jawa? karena di jawa sudah terlalu padat dengan kendaraan dan masyarakat pun memilih membeli dan menggunakan mobil konvensional karena fasilitas SPBU begitu melimpah. sedangkan di luar jawa, BBM kadang datang terlambat, harga melambung tinggi, dan berbagai masalah lainnya. dengan kata lain, masalah BBM di luar jawa dapat diatasi dengan adanya mobil listik dan PLN sebagai operator pengisian energinya.

mobil listrik tanpa listrik apa artinya. penyedia listrik di negeri ini hanya PLN. sehingga jika memang mobil listrik akan menjadi kebanggaan negeri, PLN harus siap menjadi pengantar kebanggaan tersebut. sudah waktunya Indonesia merdeka dengan adanya karya anak negeri. :)


TAGS Blogdetik PLN #ideKUUntukPLN


-

Author

Farid Nugroho
@edisipertama
Hanya seorang blogger yang entah apakah masih pantas disebut blogger :)

Follow Me