Percayalah Petasan itu Berbahaya

16 Jul 2014

selama beberapa tahun, baru dua kali bulan ramadhan ini (sekarang dan tahun kemarin) saya begitu menghawatirkan akan keberadaan petasan. hal ini karena selama satu tahun lebih saya sedang merawat bapak yang sedang sakit gejala stroke. oleh karena itu beliau tidak boleh kaget. sering jika ada anak yang menyulut petasan, mercon, atau kembang api yang lokasinya dekat dengan rumah langsung saya beri peringatan.

dulu, saya tidak begitu mempedulikan akan keberadaan petasan. bahkan saya dulu jsutru menikmati meski saya belum pernah sekali pun menyulutnya. saya dari dulu memang takut terkena letusan/ledakan petasan atau mercon. oleh karena itu saya hanya menikmati hasil sulutan dari teman-teman saja.

di lingkungan saya, teman-teman membuat petasan tidak sembarangan. jika yang dijual di warung-warung hanya sebesar isi ballpoint hingga sebesar jari telunjuk, petasan hasil “rakitan” teman-teman bisa sebesar botol air mineral. ukurannya bervariasi dari yang kecil hingga besar. jadi bisa dibayangkan berapa jumlah kertas yang dikorbankan untuk itu dan seberapa keras dentuman yang dihasilkan.

bagaimana dengan obat atau isiannya? mereka secara patungan membeli obat petasan kepada penjual dimana penjual ini menjual secara kucing-kucingan menghindari deteksi polisi. memang obat petasan ini ilegal tapi ternyata masih saja bisa sampai di tangan teman-teman saya.

sebenarnya ada jenis “petasan” yang sedikit lebih elegan, yaitu menggunakan bambu atau di kampung saya disebut “long bumbung”. petasan jenis ini menggunakan bambu petung sebagai medianya dengan diisi minyak tanah, bensin, atau karbit. meski berbahaya, tetapi tidak sebesar petasan rakitan kertas. sayangnya jenis ini sudah hampir punah di kampung saya. mungkin di daerah lain masih banyak digunakan.

sudah beberapa kali petasan memakan korban. beberapa tahun lalu di kampung saudara saya di magelang, anak-anak muda menyalakan petasan sehabis shalat ied. ada salah satu jamaah shalat ied yang mengidap penyakit jantung, penyakit beliau kumat. beruntung akibatnya tidak begitu parah. pada waktu yang sama, ada salah satu penyulut petasan yang tangannya terkena letusan.

kasus lain, pada malam malam tahun baru 2014 beberapa bulan yang lalu, ada saudara saya yang terkena stroke meninggal dunia karena kaget mendengar letusan. sebenarnya waktu itu bukan petasan melainkan kembang api tetapi karena suaranya yang mengagetkan maka detak jantung beliau meningkat. akibatnya sejam setelah masa pergantian tahun beliau menghembuskan nafas terakhir.

bulan ramadhan hingga nanti lebaran, intensitas suara petasan dipastikan akan meningkat. pertanyaannya apakah hal tersebut perlu? saya rasa sudah bukan waktunya lagi petasan menjadi primadona. pada masa yang lalu, petasann memang menarik minat orang. tetapi sekarang sudah bukan hal yang “wah” ketika menyalakannya. hanya segelintir orang saja yang menikmatinya, sebagian besar lainnya justru mengecam.

perlu ada sesuatu yang baru dalam memeriahkan ramadhan dan lebaran. saya belum tahu “sesuatu” itu apa. yang pasti harus disukai oleh banyak orang, memiliki nilai kebermanfaatan yang besar, dan membuat meriah. apa itu? entahlah:)


TAGS ngaBLOGburit


-

Author

Farid Nugroho
@edisipertama
Hanya seorang blogger yang entah apakah masih pantas disebut blogger :)

Follow Me